Saturday, 13 July 2019


Gedung Parlemen,Budapest-Hongaria.


Selamanya Indonesia

Pernah bermimpi dan mimpi itu sejak kecil, entah umur yang keberapa tapi yang pastinya pernah bermimpi suatu saat nanti, bisa ke benua yang di juluki sebagai benua biru (Eropa). Sangat tidak bisa diterima ya dengan akal sehat akan bisa ke Benua Eropa, karena belum tahu pasti akan sampai kesana dengan cara seperti apa dan kapan? liburan kah? mengikuti Program singkat yang hanya beberapa hari, minggu atau bahkan bulan saja kah? atau dengan cara yang lain. September pada tanggal ke 9 di tahun 2018 itu menjadi nyata. Rencana Sang Khalik bagi saya begitu indah, saya harus ke Eropa dengan mendapatkan salah satu Program Beasiswa dari pemerintah Hongaria berkerjasama dengan Pemerintah Indonesia. Stipendium Hungaricum (SH) itulah program yang mendukung penuh perjalanan studi Master saya di Eropa bersama para awardee (Penerima Beasiswa lainnya dari Indonesia)  di angkatan saya.

Dengan pesawat Qatar Airways yang menerbangakn kami, sekian ratus penumpang lainnya dari Jakarta menuju Budapest, Ibu kota Hongaria Eropa Tengah ini dan sempat transit beberapa jam di  Doha. Waktu di Doha,Qatar sembari menunggu perjalanan lanjutan ke Budapest, jantung saya sedikit berdebar, karna beberapa jam lagi akan tiba di negara yang menjadi rumah kedua saya kurang lebih 1 tahun 9 bulan kedepan. Sudah siapakah saya? pertanyaan itu  muncul tiba - tiba dibenak saya. SIAP dengan hati yang tegar sambil busungkan dada kedepan dan melepaskan napas panjang. SAYA SIAP, berkat dukungan keluarga, orang - orang terdekat serta semua pihak yang turut campur tangan dalam perjalanan ini dan pastinya   pertolongan Tuhan yang saya  imani.   

Sekitar jam 6 pagi lewat beberapa menit waktu Central Europe (CET), Qatar Airways yang kami tumpangi mendarat dengam aman di landasan bandara Liszt Ferenc Internasional Budapest,Hongaria. Dengan napas panjang dan lega mata saya terkagum - kagum melihat mentari pagi yang menyambut kami di benua Eropa ini dengan ceria. Puji Tuhan, akhirnnya tiba juga. Mulai detik itu, saya dengan hati yang nampak ceria dan siap  menghadapi dan menerima segala perbedaan apapun itu di negara ini. Gedung - gedung yang tinggi khas Eropa salah satu satunya Gedung Parlemen Budapest, transportasi umum yang keren sangat menurut saya ada tram, metro, train dan bus, yang tiketnya kita bisa beli di mesin yang telah tersedia pakai uang koin  dan jika di Indonesia uang koinya tidak berfungsi bahkan setingkat anak SD kalau di kasih uang jajan pun jika  koin tidak mau. Heheh.... bisa juga membeli tiket dengan menggunakan Kartu ATM jika kita tidak ada uang cashnya. Keren kan? keren donggg... belum lagi ada pemandangan Danuba (danau yang memisahkan kedua sisi kota Buda dan Pest) dengan jembatan liberty sama Chain dan jembatan lainnya yang menghubungkan antara Buda dan Pest maka jadilah Budapst. Negara yang tempat shootingnya salah satu  film layar lebar Indonesia "Surga yang tak di rindukan". Lengkap .... Budapest, I am here.... Veszprem I am coming.....  

Semua proses perjalanan dari Bandara Liszt Ferenc Internasional Budapest sampai ke Veszprem, kota dimana kampus saya berada berjalan dengan baik meskipun ada sedikit drama ala - ala film Korea. Hehehe..... 

Singkat cerita, sehari setelah tiba di Veszprem, saya sudah mulai sibuk dengan urusan kampus. ke kantor urusan internasional yang mengurus kami para mahasiswa internasional, ke katntor imigrasi untuk melaporkan diri dan mendapatkan hak izin tinggal atau biasa disebut residence permit, ke  OTP Bank untuk membuka rekening baru,  bank yang bakal tiap bulan menyalurkan dana beasiswa kami, ke  kantor pusat dokumen  untuk pembuatan kartu mahasiswa yang bakal membantu sangat  dengan program discount 50 % biaya transportasi umum dalam kota maupun antar kota (Bis dan kereta api) dan masih banyak hal lain yang mesti diselasaikan. Cuapekk? Wididhhh tidak perlu ditanya, cuapeknya tingkat dewa. apalagi saya  yang masih jetleg dengan perjalanan panjang selama di pesawat dari Indonesia kurang lebih 18 jam. Hehehe  

Hari pertama, masuk kelas sebagai Mahasiswa Magister jurusan Applied Linguistics atau bahasa terapan di Universitas Pannonia, Fakultas Moderen Philologi dan Ilmu Sosial  ini, kami berempat belas mahasiswa dari berbagai negara, diantaranya; Rusia, Jordan, Sirya, Pakistan, krygsztan dan saya satu- satunya Indonesia. Disini, saya menjadi sadar bahwa selama disini bukan hanya nama pribadi yang akan saya pertangungjawabkan, tetapi nama Negara Indonesia turut ada dipundak saya yang harus di pikul selama studi. Karena yang  akan banyak ditanya adalah nama  pribadi dan negara kami berasal. Oleh karena itu, aku selamanya INDONESIA.






Veszprem,Hungary
2019.07.13



Location: Gedung Parlemen Budapest, Hongaria
Written by: Vidson Toory
Facebook: Vais Dhon Toory
Instagram: @vaisdhon




No comments:

Post a Comment